Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

"Betlehem"

Gambar
Karya: Boby Tudu Waktunya bulan untuk bertandang Menemukan yang tak tertemukan Bersua kesan tiap kisahan Entah haru, pilu, kerih, dan seri Bulan suci bulan kemuliaan Bulan terakhir tetapi pertama Deretan terakhir tetapi semula Oh kota kecil betlehem! Tangis dan tawa mungil memanggil Segala insan datang menyangkut paut Sungkur syukur binar bintang Memasuki tiap bait mengatari Kitab telah digenapi Jajakanlah palungan pikir mazmur Bagi manusia takabur dan melepur Kerlip gempita pohon terang Meredam gelap sekap mendekap Buah tubuh, buah roh Anggur darah abadi, roti penyuci diri Tinggalah satu nama bermakna

"Padamu Puanku"

Gambar
Karya: boby Tudu Tiga titik aksara menguasai kehidupan Sebab tubuhnya, aku terkisahkan Cinta pertamaku adalah dia setia Mengecup kening ketika genting Menutup mata membuka perlahan Kembang seroja rampuh seruan Engkaulah teguh saat teduh Mengesak aku, kau hantar dongeng tidur Nak, Hidup butuh pejuang Jangan sekadar pulang Selalu kata itu sulang berulang Dekap hangatmu, kepalaku terbenam Karut marut matamu, aku muram Tanda kau telah menua Aku yang muda masih terjaga Selalu berladang bulir asih

"Hakikat Puisi"

Gambar
Karya: Boby Tudu Puisi itu air yang mengalir ukir Puisi itu api yang menyulut imaji Puisi itu awan yang rupawan Puisi itu pelita dalam gulita Puisi itu puspita jelita Puisi itu sukma dalam asmaraloka Puisi itu bunyi yang bersemi Puisi itu musik antik berkemik Puisi itu pamit yang bergamit Puisi itu pena yang menari gemulai Puisi itu mata segala masa Puisi itu telinga beranting Sejatinya itu diri puisi Sehatinya itu intuisi insani

"Akulah Penyangkalan"

Gambar
Karya: Boby Tudu Aku tercerai dari kawanan Kelebihan mematikan Kehebatan memangkas idealis Mengkhianati jalan sastrawan Dalam kebaikkan ada kecurangan Dalam kejahatan ada kenikmatan Pergolakkan semangat pembunuhan Aku pengemas kata yang payah Aku peramu rasa yang goyah Aku menggilas citra puisi Yang terpatri dalam sanubari Akulah jalan penyangkalan Menyatakan malu yang tak terkatakan Topeng akan dilepas dan terkelupas Biarlah aku tertancap keris

"Persahabatan"

Gambar
Karya: Boby Tudu Ada nangka depan mata Tumbuh indah di halaman Ada kata depan rasa Tumbuh benih di perkenalan

"Sang Penyejuk Rasa"

Gambar
Karya: Boby Tudu Berbagai raut rasa kusingkap  Kudekap pada tinta kehangatan Suara-suara merdu dipecah ingin Keheningan terkubur subur Meriba kembali senda dan gurauan Patahkan perpecahan rasa  Sempat bergejolak dengan takur Berbagai untaian rasa melekat  Sertakan denah berbenah Sirami hati yang peluh Jadi cerah panas amarah Tumbuh merambah  subur dalam petuah Oh semoga saja selamanya menjuah Sekaranglah kembali bersua peran  Setelah sekian lama terlupakan Anggukan dan senyuman cukup Memberinya harga dan makna  Sang penyejuk rasa kembali bermadah Mengggamat panji pada hulunya Bersama wajah yang mulia  Meraih secercah harapan yang ria Kiranya sang khalik ikut serta Memimpin langkah kecil kita Walau akhirnya kita tak luput oleh mair Asalkan jangan mati dalam bersyair                                                 ...

"Gila"

Gambar
Karya: Boby Tudu Aku orang gila yang tidak gila Gilaku ini adalah virus insan gila Kalaupun waras, aku tetaplah gila Dan kalaupun kamu gila tidak jadi gila Karena akulah gila itu seyogiahnya Aku menggila dalam baitnya Aku penggila dalam lariknya Aku gila dalam maknanya Dan gila dalam maksudnya Gila, gila, gila Aku sudah gila Dan kamu sudah cukup gila Kita telah bercengkrama dalam gila Gila seketika dan tak mati seketika

"Racun"

Gambar
Karya: Boby Tudu Racun itu tidak jadi bahaya Selagi ia racun yang bahagia Racun itu minuman selingan Penghancur segala kesengsaraan Kita mencari racun untuk main mata Racun mencari insan semata Racun ada pada mereka dan siap tuang Sodorkan gelas apimu dengan cinta Minum, teguklah racun gelasnya Niscaya kau masuk dalam angkara murka Datang dari jiwa yang merasuk terbuang Dan tak pernah kembali ke atapnya Aku terbakar kasar Aku kecut hanyut Aku hancur lepur Ada aku dalam kamu dan mereka

"Lembar Noda"

Gambar
Karya: Matias Mastriadin Tudu Bercak kian mengejek melonjak Selembar noda terkapar gemetar Tinta mulai berceceran di emperan Tukang kebun duduk melamun Terjebak dalam labirin beringin Utama kata Ketua angka Tua suka Sua benua Lembar kembar telah berjajar Sobek tersabit gigit sipit Waktu hanya sedikit memijit Menggigit jungkit jangkit

"TERATAI"

Gambar
Karya: Boby Tudu Bulan nampak malu-malu untuk bersinar Awan-awan hitam akan segera mengacir Perlahan kelam dan diam mendekam Tanpa nyanyian, tanpa tangisan Bumi hujan darah Langit berserah diri terbelah Lolongan datang dari segala arah Tanda bahwa waktunya telah subuh Anak kecil berlari kecil ke tepian jatuh dalam jurang karang Tubuh mawar merah berdarah Matahari tepat di wajahnya Ia berdiri sunyi Duri kembali Bila dan lagi Semua sudah usai Semringah di kembang teratai

"Kuda Berjalan"

Gambar
Karya: Boby Tudu Kuda berjalan dalam amlop Beruang mengaung pada musang Ikan berenang dalam belerang Sedang aku sibak dengan kop Ku beri nama hewan angan Ini judul tuyul takhayul Gambaran dunia susul pacul Semua wajib bersiul Aku pengantar, bukan penghantar Tatar petir dan getir Ku selipkan dalam kantong matamu Amboi haru lesu darah

"Embusan Bulan"

Gambar
Karya: Matias Mastriadin Tudu Bulan terpangkas tengah di beranda kata Melingkari isi kepala tak berkepala Aku merenungi yang telah jauh Menulis dalam sebuah entah Mengalir kecil dalam beranta Tumpukan kata tak lagi berkaca Ada yang terbalut kesah Terlanjur tidur dalam liur Tandas untuk bersaluir Kepada sang embusan Hangatkan jiwa dan sukma semalam