Postingan

Karya sastra

"Seberang Jalan"

Gambar
Karya: Boby Tudu Jalan ke seberang terasa berat Degub kian terasa kerat Ayunan langkah patah Tubuh rajam lebam Liur-liur pecah di bibir doa Peluh darah mandikan raga Bukit bangkit menangis sendu Rumput enggan menari Batu batuk pesuk menggeliat Kabut di sana, kebut di sini.

"Ketuk Peruk"

Gambar
Karya: Boby Tudu Sarang menara pandang Ketuk................! Dentum.............! Piring seiring                    Getar Hadap                    Mercu Meneroka Masuk kuping Derau minda Teriak dalam luah

"Dua Tiga Delapan"

Gambar
Karya: Boby Tudu Kapal tua jangkar sela Bibir angin menyecup telinga Daun merambah tawan daku Kala bulan atas kepala Berlayar gores ironi Memacu kelam sua hari Ombak sampal gumpal kesak Bersimbah darah riak gerak Kapalku karam lebam Pelabuhan mati di pulau

"Pulang"

Gambar
Karya: Boby Tudu Dekap aku Aku dingin Aku ingin Aku takut Aku karut-marut Engkau di mana? Meraba dinding gelisah Aku resah Aku kapah Lutut getar menjelepok aku Jemari menari tanpa rupa Jangan lupa mengakar daku Malam memakan siang Pulang enggan berpaling

"Dekap Aku"

Gambar
Karya: Boby Tudu Dekap tangkap buang tubuh Anak awan puris tirus Air mata kering menggiring Sudah habis sahabat alam Tangan sahaja basahan Masihkah bisa tafakur? Ataukah merekam ingat? Kuncup sengat lirik terik Pada mula titik balik Nyanyian jangkrik kian menikam Sarung waktu kawah makam Mengusung kerih usai malam

"Betlehem"

Gambar
Karya: Boby Tudu Waktunya bulan untuk bertandang Menemukan yang tak tertemukan Bersua kesan tiap kisahan Entah haru, pilu, kerih, dan seri Bulan suci bulan kemuliaan Bulan terakhir tetapi pertama Deretan terakhir tetapi semula Oh kota kecil betlehem! Tangis dan tawa mungil memanggil Segala insan datang menyangkut paut Sungkur syukur binar bintang Memasuki tiap bait mengatari Kitab telah digenapi Jajakanlah palungan pikir mazmur Bagi manusia takabur dan melepur Kerlip gempita pohon terang Meredam gelap sekap mendekap Buah tubuh, buah roh Anggur darah abadi, roti penyuci diri Tinggalah satu nama bermakna

"Padamu Puanku"

Gambar
Karya: boby Tudu Tiga titik aksara menguasai kehidupan Sebab tubuhnya, aku terkisahkan Cinta pertamaku adalah dia setia Mengecup kening ketika genting Menutup mata membuka perlahan Kembang seroja rampuh seruan Engkaulah teguh saat teduh Mengesak aku, kau hantar dongeng tidur Nak, Hidup butuh pejuang Jangan sekadar pulang Selalu kata itu sulang berulang Dekap hangatmu, kepalaku terbenam Karut marut matamu, aku muram Tanda kau telah menua Aku yang muda masih terjaga Selalu berladang bulir asih